Menu

Cara Kuba Nikmati Akses Internet: Pakai Hard Disk

0 Comment

Jakarta – Jika bicara soal Kuba, mungkin nama Fidel Castro yang akan langsung terlintas di kepala, tapi kita tidak akan membahas sosok revolusioner itu. Ada satu hal unik yang membuat Kuba sangat berbeda dengan negara-negara di dunia kebanyakan.

Adalah el paquete semanal yang membuatnya berbeda. Itu merupakan hard drive yang diisi konten media dengan durasi bisa mencapai ribuan jam sebagai cara masyarakat Kuba dalam menikmati internet namun dengan cara offline.

“Dengan el paquete, kamu bisa menentukan apa yang ingin ditonton dan kapan melakukannya,” ujar Alberto Jorge, salah satu warga Kuba yang menjadi pemasok dari el paquete semanal.


Biasanya, ia memberikan hard drive dengan kapasitas 1 TB untuk satu rumah. Nantinya, pemilik rumah bisa memindahkan file yang mereka inginkan.

Ada hasil scan dari sejumlah majalah dengan format pdf hingga aplikasi yang bisa dipasang pada ponsel mereka di dalam hard disk tersebut.

Lalu, selang satu hari, Jorge akan menagih kembali hard drive tersebut. Ia mematok harga USD 2, atau sekitar Rp 28 ribu, untuk jasa yang ditawarkannya itu.

Cerita tak kalah menarik datang dari orang-orang yang menjadi penikmat el paquete semanal. Salah satunya Elena Llera. Perempuan berusia 52 tahun memesan layanan tersebut untuk menikmati tayangan opera sabun asal Turki. berjudul The Bride of Istanbul.

Padahal, ia memiliki akses ke wifi publik dengan jarak hanya 100 meter dari tempat tinggalnya. Walau begitu, ia hanya tersambung ke wifi dua kali seminggu untuk melakukan video call dengan bibinya di Miami, Amerika Serikat.

Hal tersebut dipilihnya lantaran mahalnya biaya menggunakan internet lewat wifi publik itu. Tarifnya setara USD 1, atau sekitar Rp 14 ribu, per jam, yang kurang lebih sama dengan pendapatan harian dari Elena.

“Jika bisa, saya akan menggunakan internet dengan segala kegunaannya, untuk belajar mengenai politik dan kultur. Tapi saya tidak bisa. Itu sangat mahal,” ujarnya.

Lain lagi dengan Alejandro Pol. Pria berusia 28 tahun menggunakan el paquete semanal untuk membaca ulasan mengenai iPhone terbaru.

“Kami tahu bukan seperti ini cara kerja di dunia kapitalis, tapi ini cara yang kami punya untuk tetap terhubung,” katanya, sebagaimana detikINET kutip dari The Guardian, Selasa (15/1/2018).

Kondisi internet di Kuba memang bisa dibilang memprihatinkan. Pemerintahnya bahkan baru melakukan deklarasi jaringan 3G pada pertengahan tahun lalu.

Selain itu, pada Desember 2018, ada perusahaan telekomunikasi bernama Empresa de Telecomunicaciones de Cuba SA (ETECSA) yang mengumumkan bahwa warga Kuba akan bisa mengakses internet di ponsel mereka. Sayangnya, harganya masih dikeluhkan terlalu mahal bagi kebanyakan orang.

Kuba memang masih sangat tertinggal dalam akses internet karena masalah pendanaan, embargo perdagangan, dan penyensoran. Sampai 2013 pun, sebagian besar koneksi internet internet untuk umum tersedia melalui hotel-hotel yang ada di sana. (mon/afr)